Surealisme: Pecundang Klasik Yang Menjadi Klasik
Banyak galeri melarang pengunjung
memegang obyek yang dipamerkan. Itu sah-sah saja. Tapi di Perancis, ada katalog
pameran yang justru mengajak "Silahkan Pegang", terbit 1947 untuk
sebuah pameran surealisme.

Salah satu guyonan tipikal yang
sering dikemukakan seniman Marcel Duchamp adalah meraba buah dada di tempat
terbuka. Seperti perupa surealis lainnya, Marcel Duchamp beranggapan bahwa
manusia acap menekan imajinasinya. Dalam penggarapan seni, hal ini sebenarnya
tak baik dilakukan. Menurut kaum surealis seperti Duchamp, membongkar tabu-tabu
sosial bisa dimasukkan dalam kategori seni.
"Duchamp bermain dengan
pergolakan batin: apakah saya boleh, apa saya betul ingin melakukannya, apakah
perlu saya lakukan itu? Perasaan-perasaan yang bertentangan ini menjadi dasar
pemikiran karyanya“, begitu jelas Ingrid Pfeiffer, kurator pameran „Obyek-obyek
Surealis“.
Obyek-obyek ini mulai digarap pada
tahun 1930-an. Ketika itu, André Breton seorang pemikir garda depan di
jamannya, mengatakan bahwa salah satu jalan keluar untuk mengatasi ditekannya
imajinasi adalah untuk berhenti melukis, dan mulai membuat obyek-obyek tiga
dimensi. Salvador Dalí, seorang tokoh surealisme yang paling dikenal kemudian
membuat parodi mengenai citra perempuan sempurna yang terdapat dalam sejarah
seni rupa, yakni patung Venus de Milo yang diciptakan oleh pematung jaman antik
Alexandros dari Antioch. Dalam karya „Venus dari Milo“ yang dibuat oleh
Salvador Dali, terdapat laci-laci di bagian dada dan lututnya.

Salvador Dali
Kaum surealis amat gemar mencemooh
karya-karya klasik yang tercatat dalam sejarah seni rupa barat, dan banyak
karya yang dihasilkan kelompok surealis ini seringkali lucu. Tapi ada juga yang
dalam perkutatannya dengan alam bawah sadar, menghasilkan karya-karya yang
seram. Perupa Hans Bellmer misalnya, mencopoti bagian tubuh boneka, melepaskan
kepalanya dan melilit-lilitkan kaki boneka itu ke dalam bentuk yang dianggapnya
artistik. Sementara sejumlah karya Raoul Ubac, berbentuk boneka pajangan dari
toko pakaian yang kemudian puting buah dadanya ditusuki jarum. Ada juga kepala
patung boneka yang dibacok pisau, kemudian ditutupi selendang yang mengerudungi
kepala. Menurut kaum surealis, desakan-desakan erotik merupakan dasar tindakan
seseorang.
Kurator pameran Ingrid Pfeiffer,
"mereka aktif berpolitik. Di antaranya ada yang anggota partai komunis,
dan mereka semua melawan gerakan Nazi. Tapi semakin mereka kecewa dengan
target-target politik yang mengemuka, semakin mereka mendalami tema-tema cinta
dan seksualitas. Bukan dengan maksud pornografis, tapi menganalisanya sebagai
konsep dasar kehidupan, hal yang menjadi dorongan hidup internal seorang
manusia.“
Salvador Dalí, Max Ernst, René
Magritte - ini semua nama seniman yang dikaitkan dengan gaya surealisme. Sebuah
gaya yang berkutat dengan dunia mimpi dan bawah sadar manusia. Surealisme
termasuk salah satu gaya yang paling terkenal dalam sejarah seni rupa dan yang
paling banyak diteliti, tapi hingga kinipun masih ada saja sisi lain yang bisa
ditemukan.
Perempuan yang ditampilkan dalam
karya-karya surealis ini merupakan sebuah latar dari proyeksi pikiran mereka.
Tapi bukan sebagai korban. Dari die atau barang lama yang mengemuka, mereka
menganalisanya kembali dan kemudian membuat obyek-obyek lain dari hasil
pemikiran mereka yang baru.
Dalam pameran ini, pengunjung bisa
hasil karya dari sebelas orang anggota kaum Surealis. Dan mereka juga
menempatkan benda atau bahan yang ditemukannya agar penontonnya bisa
mengasosiakan ide-ide lain darinya. Banyak juga yang terus bermain dengan
permainan asosiatif yang terkait dengan seksualitas, seperti karya-karya yang
ditampilkan perupa Amerika Meret Oppenheim. Salah satunya sebuah sarung tangan
dari bulu binatang, pada ujung jemarinya mencuat keluar kuku-kuku yang di cat
merah menyolok.
„Inilah yang dimainkan oleh sebuah
obyek surealis, tidak nyaman melihat tangan yang berbulu-bulu, tapi ujung
kukunya diberi cat kuku warna merah. Itulah yang sangat menarik pada
obyek-obyek ini, karena merangsang seluruh spektrum emosi dan rasa si penonton,
kita ditarik dari satu sisi ke sisi yang lain, di satu pihak menarik, di sisi
lain menjijikkan, sedikit menakutkan, tapi juga membuat takjub, itulah benang
merah yang menyatukan obyek-obyek yang berbeda ini“, begitu Ingrid Pfeiffer

"Venus de Milo dengan
laci"
Benda-benda absurd dan tidak masuk
akal menjadi perhatian masa kesenian ini. Seorang fotografer, sutradara dan
pelukis, Man Ray mengecat sepotong roti, diwarnainya biru, sebuah setrika
ditempelinya dengan paku-paku kecil yang biasanya digunakan untuk merekatkan
kertas dinding. Marcel Marien membuat kacamata yang hanya berkaca satu.
Untuk pertama kalinya, yang berperan
bukan keahlian atau ketrampilan si perupa dalam melukis atau memahat. Tapi
siapa saja yang mengaku sebagai pengikut teori surealis bisa berpartisipasi.
Dan para seniman ini dengan rajinnya menyirisi pasar loak dan daerah sekitar
mereka mengumpulkan benda-benda yang bisa digunakan untuk karya mereka.
"Mesin tik, meja, kursi, sebuah roti panjang, pistol, biola bisa ditemukan
di dalam pameran, barang sehari-hari yang kita kenal, tapi dipresentasikan
kembali secara ironis.“
Banyak benda-benda surealis yang
belum pernah dipamerkan kepada publik, seperti payung yang terbuat dari busa
alami, karya perupa Jerman Wolfgang Paalen. Ingrid Pfeiffer menekankan arti
kontradiksi itu, "Tidak ada yang lebih tidak masuk akal dari itu. Payung
seharusnya melindungi kita dari air, tapi sifat busa adalah kebalikannya, yaitu
menyerap air. Justru itulah yang dicari kaum surealis, hal-hal yang bertolak
belakang, karena bentrokan antara ide atau sifat dasar sebuah materi mendorong
terjadinya perubahan dalam cara berpikir atau cara kita melihat sesuatu. Itulah
prinsip dasarnya.“

Marcel Duchamp bersama Man Ray
bermain catur di atap apartemen di Paris, 1924.
Surrealisme tampaknya akan terus
hidup. Banyak obyek yang dipamerkan tampak seakan baru saja ditempatkan di
situ. Karena meskipun lukisan surealistis tidak mempengaruhi senirupa masa
kini, pengaruh obyek-obyek surealis sampai sekarang masih terasa. Pameran yang
digelar dalam rangka 25 tahun galeri senirupa Schirn di Frankfurt am Main
membuktikan, bahwa surealisme merupakan zaman yang paling kuat dalam
perkembangan senirupa modern yang kini terhitung klasik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar